Angka ini menunjukkan rupiah terus melemah dibandingkan periode sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp16.200–Rp16.400 per dolar. Kenaikan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan menjadi sinyal tekanan serius terhadap mata uang nasional.
Ironisnya, di tengah pelemahan rupiah tersebut, muncul fenomena baru di media sosial: sebagian content creator justru bersorak gembira.
Bagi mereka yang menerima bayaran dari platform luar negeri seperti YouTube, TikTok, Facebook Pro, dan Adsense, dolar yang naik berarti pendapatan otomatis ikut naik saat dikonversi ke rupiah.
Contoh sederhana: Jika seorang kreator mendapat 100 dolar,
Saat kurs Rp15.500 → hanya Rp1.550.000
Saat kurs Rp16.900 → menjadi Rp1.690.000
Tanpa menambah konten, tanpa menambah penonton, penghasilan naik hanya karena rupiah melemah.
Namun bagi negara, kondisi ini justru memunculkan makna sebaliknya. Menguatnya dolar dan anjloknya rupiah kerap dimaknai sebagai:
Melemahnya daya beli masyarakat
Naiknya harga barang impor
Meningkatnya beban utang luar negeri
Tekanan terhadap harga pangan dan energi
Dalam perspektif makro, pelemahan rupiah bisa dibaca sebagai kegagalan menjaga stabilitas mata uang nasional di tengah tekanan global.
Kontras pun tak terelakkan: Negara menghadapi tekanan ekonomi
Kreator digital justru merayakan kurs tinggi
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius: Apakah pelemahan rupiah kini mulai dianggap hal biasa?
Apakah keuntungan segelintir individu sebanding dengan kerugian ekonomi nasional?
Ataukah ini pertanda ekonomi digital tumbuh di atas ekonomi riil yang melemah?
Menguatnya dolar bukan sekadar angka di papan kurs. Ia mencerminkan kekuatan atau kelemahan sebuah bangsa. Ketika rupiah jatuh, yang terdampak bukan hanya pasar, tapi juga harga beras, BBM, dan kebutuhan rakyat kecil.
Kini publik bertanya: Apakah kita akan terus menyaksikan rupiah melemah sambil sebagian pihak bersorak?
Ataukah negara akan bangkit menjaga marwah mata uangnya sendiri?


0 Comments